(Oleh Losa)
Dody PenaLosa
Beberapa bulan yang lalu saya diberi novel oleh mustofa, "ini bnovelnya bang, silakan dibaca",
ungkapnya, sambil memberikan novel tersebut kepadaku... Novel yang diberi Mustofa merupakan salah satu karya sastra Abidah, Abidah yang sangat populer dengan karyanya yang lalu, yaitu "Perempuan berkalung surban", dan kali ini aku diberi oleh mustofa sebuah novel "Akulah Istri Teroris" yang juga merupakan buah karya Abidah, singkat cerita aku langsung
saja membacanya, Ayu yang menjadi tokoh central dalam novel ini
merupakan perempuan yang berjuang dalam kemelut stigmatisasi, steorotif,
intimidasi, dan marginalisasi oleh lingkungan masyarakatnya yang selalu
sinis dalam memandangnya. berikut saya kutipkan beberapa kegelisahan
tokoh Ayu yang baginya adalah suatu ketidakadilan:
“...dan menuai
stigma sepanjang abad. Tak peduli jika ternyata suaminya sebenarnya
hanyalah tukang jahit, guru honorer, pengusaha mebelair atau tukang
sayur. Begitulah tiap hari wajahku dilempari kata makian dan cercaan
yang memerah kuping”
“Aku
selalu pasrahkan semua cobaan, hinaan dan cemoohan masyarakat, tudingan
aparat, berikut tangisan anak-anakku karena olok-olok kawanya, suramnya
masa depan mereka, masa depan kami...”
“...Kesulitanku terasa kian menumpuk. Karena tiap kali bertemu mereka, semua saling ingin curhat duluan menumpahkan semesta sesak di dada. Tak ada yang berniat ingin jadi pendengar dan menampung derita, karena derita diri masing-masing telah nyaris tumpah, saking penuh dan membludaknya.”
(Novel AIT, Hal. 11-13 Karya Abidah)
---------------------------------------------------------------------
Tampaknya, Abidah dalam novel ini ingin melakukan destigmatisasi (menghapus stigma) bahwa Islam itu identik teroris, atau mereka yang bercadar itu istri para teroris, Dalam risetnya di Poso “Kebanyakan dari mereka (Istri para terduga teroris) memiliki perawakan tubuh kecil, penampilannya sederhana dan sikapnya pun santun. Yang pantas dianggap teroris adalah Densus 88, yang memiliki badan besar, bicaranya keras, sikapnya kasar dan terlihat sangar. Pun, demikian halnya dengan para istri mereka. Mereka adalah perempuan santun, lembut dan sangat baik hati. Sungguh amat sangat salah jika masyarakat mengecam dan mengecek mereka dengan istilah ninja (hanya karena mereka memakai cadar).
Setiap orang bebas untuk memilih jalan hidupnya, dia mau berpakaian tertutup, bercadar, atau terbuka.
Belum lagi persoalan SARA yang masih HOT belakangan ini di Indonesia, seperti Indonesia timur, Jakarta dalam pemilihan gubernur, dll. Apakah Kebenaran itu memang tidak ada jika dalam menyuarakan dan menegakanya di atas ormas-ormas, LSM, Comunitas dan agama sekalipun dan aku bertanya tentang Bhinika Tunggal Ika yang sakral itu.
“...Kesulitanku terasa kian menumpuk. Karena tiap kali bertemu mereka, semua saling ingin curhat duluan menumpahkan semesta sesak di dada. Tak ada yang berniat ingin jadi pendengar dan menampung derita, karena derita diri masing-masing telah nyaris tumpah, saking penuh dan membludaknya.”
(Novel AIT, Hal. 11-13 Karya Abidah)
---------------------------------------------------------------------
Tampaknya, Abidah dalam novel ini ingin melakukan destigmatisasi (menghapus stigma) bahwa Islam itu identik teroris, atau mereka yang bercadar itu istri para teroris, Dalam risetnya di Poso “Kebanyakan dari mereka (Istri para terduga teroris) memiliki perawakan tubuh kecil, penampilannya sederhana dan sikapnya pun santun. Yang pantas dianggap teroris adalah Densus 88, yang memiliki badan besar, bicaranya keras, sikapnya kasar dan terlihat sangar. Pun, demikian halnya dengan para istri mereka. Mereka adalah perempuan santun, lembut dan sangat baik hati. Sungguh amat sangat salah jika masyarakat mengecam dan mengecek mereka dengan istilah ninja (hanya karena mereka memakai cadar).
Setiap orang bebas untuk memilih jalan hidupnya, dia mau berpakaian tertutup, bercadar, atau terbuka.
Belum lagi persoalan SARA yang masih HOT belakangan ini di Indonesia, seperti Indonesia timur, Jakarta dalam pemilihan gubernur, dll. Apakah Kebenaran itu memang tidak ada jika dalam menyuarakan dan menegakanya di atas ormas-ormas, LSM, Comunitas dan agama sekalipun dan aku bertanya tentang Bhinika Tunggal Ika yang sakral itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar