Sabtu, 29 Oktober 2016

Catatan si Pemalas (Linea#115 - #136)

(Oleh Losa)



“Tentang cerita siang ini”
Siang ini selesai menyantap sebuah novel Runtuhnya Jerman Timur oleh Martin Jankowski dan separuh novel "jatuhnya sang imam" oleh Nawal el Saadawi... Matahari masih seperti biasa dan kesadaran teralienasi dari normalitas di luar sana, tetapi tidak terdistorsi tetap menjaga balance agar tidak jatuh pada suatu yang fiksasi.... sedikit lelah, bolehkah aku bersandar di pudakmu? sebentar saja. (Losa.Linea#115)


“Tentang Maryan”
kita pisah bukan berarti kalah, melainkan karena kita sama - sama cinta dan adakalanya dalam menghadapi realita serta peristiwa tidak bersama.. semua semu tapi semua nyata, angan dan khayali adalah siasat jahat dan kita menyukainya, kita saling cinta bukan sebagai manusia.. tp sebagai aku dan kau di dunia yg kita ciptakan sendiri hingga kita inginkan untuk melampaui dan merobek langit langit standarisasi yg dikehendaki di luar sana, sungguh kita sepasang kekasih yg selalu mesra yg selalu menyulam jaring tipu muslihat dalam cinta... tidak ada beda pertemuan dan perpisahan, dimana mulai dimana akhir, keduanya menyatu... kita benar2 romantis saling mencintai sekaligus saling membenci, dan kita tetap sama-sama tersenyum. Semua yg ada senantiasa berjalan, bergerak, berubah, tp tidak pada "dasar" nya... (Demikian jawabanku tentang pertanyaanmu, tentang aku dan maryan). (Losa.Linea#116)


“Tentang teriakan Revolusi”
"Revolusi" itu bukan lagi mesti di teriakan dengan lantang, karena telinga sudah pekak dan lubangnya tak lagi mengindahkan... kini "revolusi" itu harus menjadi nyanyian tp tentunya tak berliryk seperti mantra gayatri ataupun rumus kaum saintific. (Losa.Linea#116b)


“Tentang sebuah Buku”
Buku ini, aku berjalan di hurup-hurup buku ini... sesekali menari di setiap kalimatnya yang berpakaian aforistica, hujan filosofis dan termangu di tanda bacanya segera terjaga... hingga aku tak bisa bersajak tp membahagiakan pikiran... di buatnya kepala ini seperti taman bermain yang di penuhi canda tawa anak~anak... semntara di sisi lain kopi hitam diam tak memanggil. (Losa.Linea#117)


“Tentang Generasi Kartini”
Selamatlah putri-putri indonesia yang mau cerdas dan kritis serta perduli dengan bangsanya. demikanlah yang ku ketahui dari "KARTINI". (Losa.Linea#117b)


“Tentang di atas Kapal”
Saat keberangkatan lebih dari 1 tahun yg lalu, di atas kapal aku menepi (menyendiri), karena di tengah ramai suasana koplo namun smua pnumpang nyaris suka, dlm ksendirian itu aku membuka buku diary yg baru aku beli bersamaan dengan cigaret di RM, dan halaman pertamanya aku tulis dua baris kalimat, kata2nya tak seindah seperti ungkapan aforisma, yaitu : "dingin dan teror bumi" , "laut seperti orang lapar tapi tidak mengeluh". (Losa.Linea#118)


“Tentang Siasat Cinta”
Ketika membaca Satre, Dalam Dunia Cinta sebuah konflik terhidang di santap sepasang manusia, lahirlah sudah kontradiksi yang tampak tak menemukan sintesa, teralienasi dari kesadaranya !!! karena si manusia memiliki ego yang sangat hebat akan kebebasanya. Dan dalam cinta sepasang manusia, ada siasat kecil untuk merampas sebuah freedom. Dengan demikian cinta adalah bentuk lain dari suatu tipu muslihat terselubung, kecuali yang tak merampas kebebasanya sebagai manusia. (Losa.Linea#118b)


“Tentang Bukan Hanya”
Pendidikan bukan hanya milik yg ber-uang, ceria bukan hanya pada finansial, ibadah bukan hanya pergi ketempat suci, memanusiakan manusia bukan hanya slogan dan retorika, seni bukan hanya kepuasan syaraf, senioritas dan nama, revolusi bukan hanya teriak-teriak di jalan membakar ban, negara janganlah melacuri falsafahnya, dan bergerak adalah beranjak, yang berubah tak akan punah. (Losa.Linea#119)


“Tentang Petang ini”
petang ini, kau gerami aku di runtuhan hujan, dan kau rentangkan tangan dengan mata sayu menatapku, pecah sudah kerinduan, dalam genangan hujan kita diam, sementara guntur berdialog dengan bumi yang menyempit. (Losa.Linea#120)


“Tentang Kebohongan Publik”
“tebarkanlah kebohongan sepuasmu kepada publik, karena kebohongan yang telah kau tebarkan akan dianggap publik sebagai kebenaran dan kewajaran, dan kau sepeti menjadi tuhan di dunia (awam), namun waspadalah karena ada sebagian publik yg sedang menebarkan kebohongan kepadamu dngan berpura-pura menganggapmu sebagai kebenaran, kemudian nanti mereka akan mengkafirimu dan menusuk perutmu yang penuh 'laba' dari cara keji penghisapan darah yang mengalir" (Losa.Linea#121)


“Pertarungan di Aquarium”
Dalam petakan ini aku tidak sendiri, meski aku sadar memang hanya ada aku sendiri, aku menatap aquarium tanpa gelumbung udara, di dalam airnya Ada pythagoras sedang melamun, sementara dipermukaannya ada heraklitus sedang bertarung dengan Parmenides. (Losa.Linea#121b)


“Tentang Buku Jonathan Black”
Semnggu yg lalu selesai mnyantap book fritjof capra yg mmbenturkan descartes ke dinding dengan sangat keras, bahwa manusia adalah "oganisme proses". Dan hari ini lebih dari separuh mngunyah karya jonathan black, dengan gaya penulisan yg gamplang, buku yg penuh enigmatic dan kode serta misterius dngan teori2 yg aneh bagiku, sudut pndang baru dlam mngungkap mngupas peristiwa kejadian history global, sejarah dunia yg dsembunyikan ya sebuah perjalanan esoteris. Dan pada akhirnya mnjadi kontroversial (Losa.Linea#122)


“Tentang kata Herakleitos”
"Anak panah adalah hidup, namun kerja dari panah adalah kematian" demikian kata Herakleitos seorang filsuf yg terbuang. Kehidupan dan kematian adalah satu. Jangan takut dengan Kejahatan dan penderitaan, karena kebahagiaan juga "sama". (Losa.Linea#123)


“Tentang Kecurigaan terhadap berita”
Saya ingat seorang dokter sering bilang, makanan sehat itu yg "alami"/natural tanpa campuran bahan pngawet n sbgainya. Bagaimana jika berita sudah di campur editor dll (secara berlebihan) baik tulisan (koran) atau visual (tv), berarti berita2 tersebut tdk ada yg alami (murni dan 'jujur') melainkan kantong dominasi hegemoni dan tdk sehat dikonsumsi, bahkan ada yg tidak boleh di tampilkan (diterbitkan). Aku bertanya tentang kebebasan pers!. (Losa.Linea#123).


“Tentang ‘mereka’ yang pesimis”
Mereka enggan mngakui dng tangan terbuka, tentang faktisitas realitas yang chaos. Dalam koridor kategorial mereka bergantung pd keadaan "statis equilibrium"... dan kini mereka seperti tampak kelelahan, menghancurkan fondasi yg mreka tegakan, melemahlah roh amorphate yg fiksasi dan sedikit jumawa yg tertanam dlm diri mreka... Sayang, sementara kau msh mnikmati permainan enigma hidup diantara jiwa dan materi, smpai kau menemukan duniamu sendiri. (Losa.Linea#124).


“Tentang Pernyataan Descartes”
Dunia merupakan karakter dari ada di dalam dunia, yang disebut dng "dassein".
Sementara pernyataan terkenal Descartes "cogito ergo sum" (aku berpikir maka aku ada) telah melupakan eksistensi dari sein itu sendiri bahwa seharusnya aku ada terlebih dahulu barulah kemudian aku bisa berpikir, "kesadaran/berpikir bukanlah segalanya yg dipaksa untuk dimutlakan melahirkan ada", sama seperti tentang ketiadaan yg dipaksa ada dlm logica/nalar. (Losa.Linea#125).


“Tentang aku dan bantal”
Beberapa helai rambut jatuh ke bantal, sementara bantal tetap bersikukuh untuk diam. (Losa.Linea#126).


“Hermeneutika”
hermeneutika bukan sekedar seni memahami atau tafsir semata... tapi lebih dari itu. (Losa.Linea#127).


“Hidup telah disanggah”
Apa yang di alami ketika berjumpa dan membangun peristiwa di lapangan realitas di atas teror dan kebohongan. seperti penjelajah dan bermain enigma. Berjalan di atas ranjau dan sedikit heroik, dengarkanlah pernyataan2 dari bibir yg gemetar, tampak pernyataan klise yg berkeinginan untuk melahirkan sintesa namun jumawa... ya sederhananya hidup telah disanggah, mesti "gila".(Losa.Linea#128 ).


“Tentang siasat”
kepada pemurung dan pejalan kelam : "jika kakimu terkena lumpur, maka cucilah dan sucikanlah dengan lumpur". Meski dirimu di anggap gila, karena yang "waras" suka bersiasat dan bersembunyi di balik "air suci", kemudian mereka menghisap "darah" yang mengalir. (Losa.Linea#129).


“Tentang Dendam para Pengigau”
Betapa mereka  akan mendesah dan berkeluh pucat di hadapan para pengigau... pedang~pedang telah berkarat dan dahaga, tentunya menginginkan asa dan darah... darah para raja serta para hipokrit yg berwajah keras, culun serta menjijikan dan angin kan membawa berita suka. (Losa.Linea#130).


“Tentang Hujan jan hujan”
Langit lihatlah aku..
Lihatlah,
Kaki kaki ku hujan,
Tubuh tubuh ku hujan,
Tangan tangan ku hujan,
Kepala kepala ku hujan,
Mata mata ku hujan,
Kaki kaki ku hujan..
hujan jan hujan jan hujan,
Aku tak berharap hujanmu untuku wahai langit...
Tapi engkau lebih tahu tentang hujan sekaligus soal Kering... (Losa.Linea#131).


“Filsafat oh filsafat”
ada wilayah tak bertuan, dia berada di tengah-tengah, diantara teologi dan sains atau diantara jiwa dan materi. masuklah kewilayah tak bertuan ini, betapa banyak permainan di dalamnya penuh dengan persoalan tapi membahagiakan pikiran. (Losa.Linea#132).


“Pohon Di Pantai Parangtritis”
Hari ini aku sangat mesra dengan angin laut di pantai parangtritis, dan aku melihat pohon yang sepertinya sudah lama tumbang, kemudian aku lihat pohon ini menjadi salah satu objek para pengunjung dipantai dan di abadikan bersama diri mereka.. ya “keabadian”, seperti pohon yang tetap bermanfaat setelah matinya. (Losa.Linea#133).


“Mengutif Nietszche”
AForistik F.N; "aku mencintai para penjijik besar, namun manusia adalah seseuatu yang harus diatasi". (Losa.Linea#134).

“Jatuh cinta pd Dialektika”
Dan keadilan itu adalah "perselisihan", segala sesuatu lahir dan sirna lewat perselisihan,.. yang baik adalah yang bertentangan. (Losa.Linea#135).



 "10v0319*"
Aku tak lihat apapun dari “dia”, dan sebaliknya. Kami bagai oang asing yang kenal dengan baik. Dalam menceritakan kisah hidupnya, seperti tidak mungkin mengabaikan fakta dari fiksi, orang dari mitosnya. Cara terbaik menceritakanya seperti caranya bercerita. Ah… Malaikat di jiwa terbelenggu. Akal sehat pun mati. Tak masuk akal dan umumnya tak terjadi namun “dia” mengalami. Ada saat dimana kewarasan menelan harga diri dan mengakui dia salah, sayangnya dia bukan orang waras, harus menjadi “gila” untuk memahaminya. Ya begitulah realitas kadangkala ada yang tak rasional. (Losa.Linea#136b).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar