“Tentang cerita siang ini”
Siang ini selesai menyantap
sebuah novel Runtuhnya Jerman Timur oleh Martin Jankowski dan separuh novel
"jatuhnya sang imam" oleh Nawal el Saadawi... Matahari masih seperti
biasa dan kesadaran teralienasi dari normalitas di luar sana, tetapi tidak
terdistorsi tetap menjaga balance agar tidak jatuh pada suatu yang fiksasi.... sedikit
lelah, bolehkah aku bersandar di pudakmu? sebentar saja. (Losa.Linea#115)
“Tentang Maryan”
kita pisah bukan berarti kalah,
melainkan karena kita sama - sama cinta dan adakalanya dalam menghadapi realita
serta peristiwa tidak bersama.. semua semu tapi semua nyata, angan dan khayali
adalah siasat jahat dan kita menyukainya, kita saling cinta bukan sebagai
manusia.. tp sebagai aku dan kau di dunia yg kita ciptakan sendiri hingga kita
inginkan untuk melampaui dan merobek langit langit standarisasi yg dikehendaki
di luar sana, sungguh kita sepasang kekasih yg selalu mesra yg selalu menyulam jaring tipu muslihat dalam
cinta... tidak ada beda pertemuan dan perpisahan, dimana mulai dimana akhir,
keduanya menyatu... kita benar2 romantis saling mencintai sekaligus saling
membenci, dan kita tetap sama-sama tersenyum. Semua yg ada senantiasa berjalan,
bergerak, berubah, tp tidak pada "dasar" nya... (Demikian jawabanku
tentang pertanyaanmu, tentang aku dan maryan). (Losa.Linea#116)
“Tentang teriakan Revolusi”
"Revolusi" itu bukan
lagi mesti di teriakan dengan lantang, karena telinga sudah pekak dan lubangnya
tak lagi mengindahkan... kini "revolusi" itu harus menjadi nyanyian
tp tentunya tak berliryk seperti mantra gayatri ataupun rumus kaum saintific. (Losa.Linea#116b)
“Tentang sebuah Buku”
Buku ini, aku berjalan di
hurup-hurup buku ini... sesekali menari di setiap kalimatnya yang berpakaian
aforistica, hujan filosofis dan termangu di tanda bacanya segera terjaga...
hingga aku tak bisa bersajak tp membahagiakan pikiran... di buatnya kepala ini
seperti taman bermain yang di penuhi canda tawa anak~anak... semntara di sisi
lain kopi hitam diam tak memanggil. (Losa.Linea#117)
“Tentang Generasi Kartini”
Selamatlah putri-putri indonesia
yang mau cerdas dan kritis serta perduli dengan bangsanya. demikanlah yang ku
ketahui dari "KARTINI". (Losa.Linea#117b)
“Tentang di atas Kapal”
Saat keberangkatan lebih dari 1
tahun yg lalu, di atas kapal aku menepi (menyendiri), karena di tengah ramai
suasana koplo namun smua pnumpang nyaris suka, dlm ksendirian itu aku membuka
buku diary yg baru aku beli bersamaan dengan cigaret di RM, dan halaman
pertamanya aku tulis dua baris kalimat, kata2nya tak seindah seperti ungkapan
aforisma, yaitu : "dingin dan teror
bumi" , "laut seperti orang lapar tapi tidak mengeluh". (Losa.Linea#118)
“Tentang Siasat Cinta”
Ketika membaca Satre, Dalam Dunia
Cinta sebuah konflik terhidang di santap sepasang manusia, lahirlah sudah
kontradiksi yang tampak tak menemukan sintesa, teralienasi dari kesadaranya !!!
karena si manusia memiliki ego yang sangat hebat akan kebebasanya. Dan dalam
cinta sepasang manusia, ada siasat kecil untuk merampas sebuah freedom. Dengan
demikian cinta adalah bentuk lain dari suatu tipu muslihat terselubung, kecuali
yang tak merampas kebebasanya sebagai manusia. (Losa.Linea#118b)
“Tentang Bukan Hanya”
Pendidikan bukan hanya milik yg
ber-uang, ceria bukan hanya pada finansial, ibadah bukan hanya pergi ketempat
suci, memanusiakan manusia bukan hanya slogan dan retorika, seni bukan hanya kepuasan
syaraf, senioritas dan nama, revolusi bukan hanya teriak-teriak di jalan
membakar ban, negara janganlah melacuri falsafahnya, dan bergerak adalah
beranjak, yang berubah tak akan punah. (Losa.Linea#119)
“Tentang Petang ini”
petang ini, kau gerami aku di
runtuhan hujan, dan kau rentangkan tangan dengan mata sayu menatapku, pecah
sudah kerinduan, dalam genangan hujan kita diam, sementara guntur berdialog
dengan bumi yang menyempit. (Losa.Linea#120)
“Tentang Kebohongan Publik”
“tebarkanlah kebohongan sepuasmu
kepada publik, karena kebohongan yang telah kau tebarkan akan dianggap publik
sebagai kebenaran dan kewajaran, dan kau sepeti menjadi tuhan di dunia (awam),
namun waspadalah karena ada sebagian publik yg sedang menebarkan kebohongan
kepadamu dngan berpura-pura menganggapmu sebagai kebenaran, kemudian nanti
mereka akan mengkafirimu dan menusuk perutmu yang penuh 'laba' dari cara keji
penghisapan darah yang mengalir" (Losa.Linea#121)
“Pertarungan di Aquarium”
Dalam petakan ini aku tidak
sendiri, meski aku sadar memang hanya ada aku sendiri, aku menatap aquarium
tanpa gelumbung udara, di dalam airnya Ada pythagoras sedang melamun, sementara
dipermukaannya ada heraklitus sedang bertarung dengan Parmenides. (Losa.Linea#121b)
“Tentang Buku Jonathan Black”
Semnggu yg lalu selesai mnyantap
book fritjof capra yg mmbenturkan descartes ke dinding dengan sangat keras,
bahwa manusia adalah "oganisme proses". Dan hari ini lebih dari
separuh mngunyah karya jonathan black, dengan gaya penulisan yg gamplang, buku
yg penuh enigmatic dan kode serta misterius dngan teori2 yg aneh bagiku, sudut
pndang baru dlam mngungkap mngupas peristiwa kejadian history global, sejarah
dunia yg dsembunyikan ya sebuah perjalanan esoteris. Dan pada akhirnya mnjadi
kontroversial (Losa.Linea#122)
“Tentang kata Herakleitos”
"Anak panah adalah hidup,
namun kerja dari panah adalah kematian" demikian kata Herakleitos seorang
filsuf yg terbuang. Kehidupan dan kematian adalah satu. Jangan takut dengan
Kejahatan dan penderitaan, karena kebahagiaan juga "sama". (Losa.Linea#123)
“Tentang Kecurigaan terhadap
berita”
Saya ingat seorang dokter sering
bilang, makanan sehat itu yg "alami"/natural tanpa campuran bahan
pngawet n sbgainya. Bagaimana jika berita sudah di campur editor dll (secara
berlebihan) baik tulisan (koran) atau visual (tv), berarti berita2 tersebut tdk
ada yg alami (murni dan 'jujur') melainkan kantong dominasi hegemoni dan tdk
sehat dikonsumsi, bahkan ada yg tidak boleh di tampilkan (diterbitkan). Aku
bertanya tentang kebebasan pers!. (Losa.Linea#123).
“Tentang ‘mereka’ yang pesimis”
Mereka enggan mngakui dng tangan
terbuka, tentang faktisitas realitas yang chaos. Dalam koridor kategorial
mereka bergantung pd keadaan "statis equilibrium"... dan kini mereka
seperti tampak kelelahan, menghancurkan fondasi yg mreka tegakan, melemahlah
roh amorphate yg fiksasi dan sedikit jumawa yg tertanam dlm diri mreka... Sayang,
sementara kau msh mnikmati permainan enigma hidup diantara jiwa dan materi,
smpai kau menemukan duniamu sendiri. (Losa.Linea#124).
“Tentang Pernyataan Descartes”
Dunia merupakan karakter dari ada
di dalam dunia, yang disebut dng "dassein".
Sementara pernyataan terkenal Descartes "cogito ergo sum" (aku berpikir maka aku ada) telah melupakan eksistensi dari sein itu sendiri bahwa seharusnya aku ada terlebih dahulu barulah kemudian aku bisa berpikir, "kesadaran/berpikir bukanlah segalanya yg dipaksa untuk dimutlakan melahirkan ada", sama seperti tentang ketiadaan yg dipaksa ada dlm logica/nalar. (Losa.Linea#125).
Sementara pernyataan terkenal Descartes "cogito ergo sum" (aku berpikir maka aku ada) telah melupakan eksistensi dari sein itu sendiri bahwa seharusnya aku ada terlebih dahulu barulah kemudian aku bisa berpikir, "kesadaran/berpikir bukanlah segalanya yg dipaksa untuk dimutlakan melahirkan ada", sama seperti tentang ketiadaan yg dipaksa ada dlm logica/nalar. (Losa.Linea#125).
“Tentang aku dan bantal”
Beberapa helai rambut jatuh ke
bantal, sementara bantal tetap bersikukuh untuk diam. (Losa.Linea#126).
“Hermeneutika”
hermeneutika bukan sekedar seni
memahami atau tafsir semata... tapi lebih dari itu. (Losa.Linea#127).
“Hidup telah disanggah”
Apa yang di alami ketika berjumpa
dan membangun peristiwa di lapangan realitas di atas teror dan kebohongan.
seperti penjelajah dan bermain enigma. Berjalan di atas ranjau dan sedikit
heroik, dengarkanlah pernyataan2 dari bibir yg gemetar, tampak pernyataan klise
yg berkeinginan untuk melahirkan sintesa namun jumawa... ya sederhananya hidup
telah disanggah, mesti "gila".(Losa.Linea#128 ).
“Tentang siasat”
kepada pemurung dan pejalan kelam
: "jika kakimu terkena lumpur, maka cucilah dan sucikanlah dengan
lumpur". Meski dirimu di anggap gila, karena yang "waras" suka
bersiasat dan bersembunyi di balik "air suci", kemudian mereka
menghisap "darah" yang mengalir. (Losa.Linea#129).
“Tentang Dendam para Pengigau”
Betapa mereka akan mendesah dan berkeluh pucat di hadapan
para pengigau... pedang~pedang telah berkarat dan dahaga, tentunya menginginkan
asa dan darah... darah para raja serta para hipokrit yg berwajah keras, culun
serta menjijikan dan angin kan membawa berita suka. (Losa.Linea#130).
“Tentang
Hujan jan hujan”
Langit
lihatlah aku..
Lihatlah,
Kaki kaki ku hujan,
Tubuh tubuh ku hujan,
Tangan tangan ku hujan,
Kepala kepala ku hujan,
Mata mata ku hujan,
Kaki kaki ku hujan..
hujan jan hujan jan hujan,
Aku tak berharap hujanmu untuku wahai langit...
Tapi engkau lebih tahu tentang hujan sekaligus soal Kering... (Losa.Linea#131).
Lihatlah,
Kaki kaki ku hujan,
Tubuh tubuh ku hujan,
Tangan tangan ku hujan,
Kepala kepala ku hujan,
Mata mata ku hujan,
Kaki kaki ku hujan..
hujan jan hujan jan hujan,
Aku tak berharap hujanmu untuku wahai langit...
Tapi engkau lebih tahu tentang hujan sekaligus soal Kering... (Losa.Linea#131).
“Filsafat oh filsafat”
ada wilayah tak bertuan, dia berada di
tengah-tengah, diantara teologi dan sains atau diantara jiwa dan materi.
masuklah kewilayah tak bertuan ini, betapa banyak permainan di dalamnya penuh
dengan persoalan tapi membahagiakan pikiran. (Losa.Linea#132).
“Pohon Di Pantai
Parangtritis”
Hari ini aku
sangat mesra dengan angin laut di pantai parangtritis, dan aku melihat pohon
yang sepertinya sudah lama tumbang, kemudian aku lihat pohon ini menjadi salah
satu objek para pengunjung dipantai dan di abadikan bersama diri mereka.. ya “keabadian”,
seperti pohon yang tetap bermanfaat setelah matinya. (Losa.Linea#133).
“Mengutif
Nietszche”
AForistik F.N; "aku mencintai para penjijik besar, namun
manusia adalah seseuatu yang harus diatasi". (Losa.Linea#134).
“Jatuh cinta pd Dialektika”
Dan keadilan itu adalah
"perselisihan", segala sesuatu lahir dan sirna lewat perselisihan,..
yang baik adalah yang bertentangan. (Losa.Linea#135).
"10v0319*"
Aku tak lihat apapun dari “dia”,
dan sebaliknya. Kami bagai oang asing yang kenal dengan baik. Dalam
menceritakan kisah hidupnya, seperti tidak mungkin mengabaikan fakta dari
fiksi, orang dari mitosnya. Cara terbaik menceritakanya seperti caranya
bercerita. Ah… Malaikat di jiwa terbelenggu. Akal sehat pun mati. Tak masuk
akal dan umumnya tak terjadi namun “dia” mengalami. Ada saat dimana kewarasan
menelan harga diri dan mengakui dia salah, sayangnya dia bukan orang waras,
harus menjadi “gila” untuk memahaminya. Ya begitulah realitas kadangkala ada yang tak rasional. (Losa.Linea#136b).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar