(Oleh Losa)
"Lihatlah meja ini," ujarnya. "yang di ukir dengan seni jepara". Tampak
sempurna dari suatu hal yang sederhana. dan perhatikanlah manusia modern
yang bepergian ke tempat mahal dengan tembok-tembok kaca agar merasa
berpengalaman dan terlihat seperti trend dengan dada dan pantat liberal,
tapi bermental budak saat terhimpit, kemudian sesak nafas saat
gelisah."
Aku meneguk anggur itu lagi, sedikit di campur reflika brem yang populer di kota Lombok, tak ada pengunjung lain pada malam selarut ini----- karena semua takut dengan matahari bersembunyi... "kami buka sampai jam tiga pagi, anda bisa keluar ke alun-alun" pelayan berkata. "itu arah kemana?" jawabku. "kira-kira 50 Meter barat mushola kausar setelah perempatan lampu merah" pelayan menjelaskan. "terimakasih pak" sahut temanku yang memang dari tadi ingin beranjak----- "Selamat beristirahat orang-orang sibuk" dalam hatiku. "Losa, kita mau ke alun-alun ya?" tanya temanku (Arin). "kemana saja, anggap saja kita warga dunia haha, dan tentunya kita akan berhadapan dengan peristiwa-peristiwa lainya" sahutku. "ojo guyonan, minggu temanin aku kegereja" pinta temanku. "ya ya, jadi ingat kata gie "kita sungguh berbeda dalam semua kecuali dalam cinta". "tapi itu untuk Ira" jawab Arin. "tidak juga, KTP ku muslim dan kau kristen bukankah kita berbeda, kecuali dalam 'cinta'. hahaha kami pun tertawa lembut mungkin pengaruh anggur. Sementara pelayan cafe yang kami kunjungin sedang merapikan kursi, tubuhnya tampak lelah dan wajahnya terlihat seperti menginginkan sesuatu yaitu kasur dan selimut. Kami pun beranjak pulang, "mari mas" kata Arin kepada pelayan, "engge, sesok main lagi" jawab pelayan, "engge mas, terimakasih" sahutku.
Singkat cerita, aku tiba di kos, lalu merebahkan diri di atas kasur yang mungkin penuh dengan armada kutu. oh kemana orang-orang sibuk pergi jika matahari telah bersembunyi? sungguh suatu yang normalitas adalah diluarku, mataku belum mau terpejam dan aku memandangin seekor lalat hitam yang diam atau mungkin sedang tertidur di atas lampu bersinar pendar kekuningan, yang menggantung di bawah atap kamar kos berwarna kelabu tanpa
plapon... aku pandangi lalat hitam itu tanpa mengganggunya, kami saling mendiamin tak seperti saat bersama Arin dan juga pelayan di cafe tadi, oh lalat aku
menolakmu hingga kau mencintaiku... ohh aku hanya mencintai yang
menolaku... semoga kau tak murung lalat karena langit malam ini tak gelisah, malam ini tak kudengar juga longlong anjing yang nyaring, mungkin sudah bercumbu mimpi bersama orang-orang sibuk. Ketika matahari bersembunyi sudah mulai beranjak, banyak diantara mereka mendesah dan berkeluh pucat di hadapan para
pengigau.
Aku ucapkan terimakasih wahai kau hyang surya bersembunyi..
Dan aku bertanya padamu wahai kelam langit,
Apakah kejora yang berpendar selalu mengindahkannmu?.
Dalam malam ingin adil berlaku sempurna....
Dan pada dirimu keheningan,
Adakah jalan tuk lebih dekat,
"Smoga saja"
Dan aku bertanya padamu wahai kelam langit,
Apakah kejora yang berpendar selalu mengindahkannmu?.
Dalam malam ingin adil berlaku sempurna....
Dan pada dirimu keheningan,
Adakah jalan tuk lebih dekat,
"Smoga saja"
Manisku aku memanggilmu, di
dekatku ada ruang tak bertuan, kau dapat memanjakan pikiran mu di sini,
yang akan membuat kita mesra sekaligus muntah, karena kita tak pernah
berhenti untuk selalu bertanya. Apakah kau tahu? malam ini aku juga menggumam tentangmu, tentang kita di tepi jurang dengan jalan-jalan curam, kau genggam tanganku gemetar membiru, kemudian kita mencari huruf yang hilang diantara tebaran kata, manisku aku terpaku di kesunyian, ingin aku jumpai kau, tetapi enggan untuk beranjak, karena rindu telah membatu, membeku tak bergeming.
Kini malam mengajarkan tentang "ketidakwajaran" kepada yang "wajar", dan adakalanya ketidakwajaran menjadi keharusan, Kini Aku mulai mencintai gelisah, sebab kegelisahan mengajarkan tentang kewaspadaan tak luput juga tentang "kepekaan". Selamat tidur orang-orang sibuk, padamu kelam sampai jumpa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar