Minggu, 30 Oktober 2016
“Nabi Palsu”
(oleh Losa)
Sayangku…
Lihatlah pembawa kerohanian,
Begitu banyak kebijakan-kebijakan,
Memerangi kejahatan, menyangkal dan menyepikan diri…
Lihatlah pemberi dakwah kerohanian,
Upacara ritual dan persembahan,
Dengan dalih tabungan amal,
Manisku…
Lihatlah penyampai kerohanian,
Di tempat-tempat ibadah, di dalam media…
Dan dibalik layar mereka menghitung laba,
Aku tak mau lagi melihatnya…
Banyak sekali jebakan-jebakan dalam kekeliruan,
Menjadi pupuk yang amat menyuburkan,
Bagi sejarah kapitalisme dan semakin tumbuh sampai saat ini,
Lihatlah sekali lagi kerohanian,
seperti asketisme yang jumawa.
Hingga transenden yang suci dihancurkanya sendiri,
Sayangku…
Mereka itu layaknya seperti nabi
Bahkan nabi sendiri tak mengajarkan itu,
Di tangan dan bibir mereka,
Semua ayat dan firman tergadai dan terjual,
Sayangku…
Mereka itu adalah nabi palsu,
Yang bersekutu dengan dominasi kekuasaan,
Semua dibuatnya menjadi kewajaran,
Hingga kemiskinanpun menjadi tontonan hiburan ditelevisi,
mereka itu mengamputasi realitas
bersembunyi dibalik kata suci
mereka itu palsu
Seiman perang, tak seiman mengkafiri
dan dipersembunyianya mereka bersiasat...
Manisku,
tapi kau melakukan kejahatan
sampai kau mengingkarinya
dan bagiku, itu lebih baik
ketimbang mereka bersiasat dusta demi kuasa.
dipinggir telaga
(Oleh losa)
Menjelang senja, jauh dari arah barat sang surya
mulai meredupkan cahayanya. Malam segera menyapa, sebentar sang hyang surya
menempatkan diri lewat celah-celah daun di reranting pohon, dan sedikit
menyempatkan diri di balik awan bergumul. Sampai akhirnya sang surya merasa
lelah dan undur diri seolah-olah memberikan kesempatan pada sang rembulan. Tak
terelakan awan bergumul menjadi gelap dan melambaikan salam perpisahan kepada
sang surya yang telah menjauh, menyambut rembulan
yang sudah dekat, dengan sedikit malu rembulan cantik termangu, karena dia tahu
bintang-bintang kecil yang selalu bersamanya tidak ikut bersinar, benar-benar
gelap… tak lama kilat putih menyambar-nyambar dan angin tak lagi membelai
mesra, bertiup dengan kencang. Awan bergumul menghilang, hujan turun begitu
ramai membasahi tanah dan mengisi telaga. Hanya sebentar lalu kebisuanpun tiba,
rembulan yang malu perlahan mulai benderang bercahaya. Dan aku akan merindu
pada sang surya dipinggir telaga
Penantian
Dawai malam berdenting,
mengiring jiwa, aku melayang...
aku tulis sebuah sajak,
tentang aku dan kau,
tidak mesra tak juga indah,
tidak mesra tak juga indah,
aku tak pandai menulis kata,
menyepakati jarak menjadi tirai,
menyepakati jarak menjadi tirai,
sampai semua menjadi
sirna.
aku ceritakan tentang kau dan aku,
aku ceritakan tentang kau dan aku,
pada kejora di
tengah kelam...
tentang kekakuan, kemesraan dan kepahitan…
Kini malam semakin larut,
Aku terpaku di kesunyian
ingin aku jumpai kau,
tentang kekakuan, kemesraan dan kepahitan…
Kini malam semakin larut,
Aku terpaku di kesunyian
ingin aku jumpai kau,
apalah daya mengutuk waktu,
rindu menjadi kaku, membeku tak bergeming..
di penantian aku bertahan,
Tak lelah aku menunggu...
sempat ku ingin mengingkari,
mendustai semua yang terpendam,
namun aku terlanjur memilih,
bertahan di penantian...
Meskipun kita tahu,
harapan pada kenyataan adalah penyiksaan...
namun kesetiaan sebuah perjalanan yang menentukan.
(losa.linea#341)
rindu menjadi kaku, membeku tak bergeming..
di penantian aku bertahan,
Tak lelah aku menunggu...
sempat ku ingin mengingkari,
mendustai semua yang terpendam,
namun aku terlanjur memilih,
bertahan di penantian...
Meskipun kita tahu,
harapan pada kenyataan adalah penyiksaan...
namun kesetiaan sebuah perjalanan yang menentukan.
(losa.linea#341)
Langganan:
Postingan (Atom)

